5 Pandangan Salah Kaprah tentang Asuransi yang Berkembang di Masyarakat


Banyak pandangan salah kaprah terhadap asuransi. Padahal, keberadaan asuransi sangat penting sebagai strategi manajemen risiko finansial pribadi.

Harus diakui, kesadaran berasuransi masyarakat Indonesia sejauh ini masih terbilang rendah. Penetrasi industri asuransi hingga akhir kuartal III-2016 baru sebesar 2,63%, mengutip catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Angka itu merepresentasikan rasio perolehan premi dengan produk domestik bruto (PDB) di Indonesia.

Angka itu masih sangat kecil. Di kawasan Asia Tenggara, Indonesia baru posisi 4 di bawah Singapura, Malaysia dan Thailand, tentang penetrasi asuransi.

Mengapa masyarakat Indonesia masih kurang akrab dengan produk asuransi? Penyebab utama kemungkinan besar adalah karena tingkat literasi keuangan di masyarakat Indonesia yang masih rendah.

Berikut banyak pandangan salah kaprah tentang asuransi yang berkembang di masyarakat:

Membuang uang percuma
asuransi jiwa terbaik

Masih banyak kalangan yang menganggap, membeli asuransi sama saja membuang uang percuma. Malah, tak sedikit yang menilai membeli asuransi sebagai langkah investasi.

Pandangan seperti itu sebenarnya salah kaprah. Asuransi dalam kamus perencanaan keuangan adalah salah satu strategi manajemen risiko finansial. Dengan membeli produk asuransi, kita mengalihkan risiko keuangan kita pada pihak ketiga yaitu perusahaan asuransi.

Baca juga: Perbedaan Layanan BPJS Kesehatan dan Asuransi Kesehatan Komersial

Gampangnya begini, sebagai manusia biasa kita tentu memiliki risiko untuk sakit. Sakit akan membuat kita harus berobat dan mengeluarkan biaya. Kondisi sakit juga membuat kita tidak bisa bekerja.

Dengan membeli asuransi kesehatan, ketika risiko sakit itu menimpa, biaya berobat dan kerugian akibat produktivitas yang terhenti, kita alihkan ke perusahaan asuransi. Perusahaan asuransi yang akan membayar biaya berobat tersebut. Untuk mendapatkan proteksi itu, tentu saja kita harus membayar biaya yang bernama premi. Dalam kolom anggaran, premi asuransi masuk barisan biaya. Bukan pendapatan, apalagi investasi.

Asuransi dan penghasilan
asuransi jiwa terbaik

Tujuan pembelian asuransi pada kebanyakan orang masih melenceng. Orang mengira, saat memiliki penghasilan, otomatis perlu membeli asuransi. Pandangan ini belum tentu benar. Asuransi baru kita butuhkan ketika memang ada risiko finansial yang kamu tanggung.

Misalnya, saat kamu memiliki tanggungan seperti istri, anak atau orangtua, ataupun adik. Ada risiko gangguan finansial ketika tiba-tiba si pencari nafkah (penanggung) sakit atau meninggal dunia. Bila situasinya begini, kamu jelas membutuhkan asuransi kesehatan dan asuransi jiwa terbaik yang sesuai dengan kebutuhan.

Sama halnya ketika kamu memiliki kendaraan bermotor atau rumah. Ada risiko pecurian, kebakaran, tertabrak, yang bisa memengaruhi kondisi finansial ketika itu terjadi. Membeli asuransi untuk kendaraan bermotor atau asuransi kebakaran untuk rumah bisa menjadi jalan keluar.

Asuransi jiwa tak wajib
asuransi jiwa terbaik

Demikian juga dengan asuransi jiwa. Selama ini asuransi jiwa sering disepelekan sehingga tak banyak yang membeli asuransi jenis ini.

Padahal jika kita sudah bekerja dan memiliki tanggungan yang akan terpengaruh kesejahteraan hidupnya bila kita meninggal dunia, maka memiliki asuransi jiwa terbaik sebenarnya adalah sebuah keharusan dalam pengelolaan keuangan pribadi. Cari produk asuransi jiwa terbaik di pasar yang sesuai dengan kebutuhan proteksi kamu.

Asuransi jiwa tersebut akan berfungsi menggantikan kontribusi finansial kita kepada para ahli waris yang selama ini menjadi tanggungan. Beberapa asuransi jiwa terbaik menawarkan premi yang cukup terjangkau. Kamu bisa memilih produk asuransi jiwa murni atau termlife.

Sebaliknya, bila kita sudah bekerja tetapi tidak menanggung siapapun, belum perlu bagi kita membeli asuransi jiwa.

Lalu, apakah anak muda yang baru bekerja sudah butuh asuransi jiwa? Bila kamu tidak menanggung hidup siapapun, asuransi jiwa belum perlu. Tapi, asuransi kesehatan sebaiknya kamu penuhi. Kamu bisa menjadi peserta BPJS Kesehatan, untuk mengkaver risiko-risiko terkait kesehatan.

Asuransi bukanlah investasi
(source: investorpintar.com)
Ini berkaitan dengan kesalahan pandangan yang pertama. Salah menganggap asuransi sebagai tindakan buang-buang uang, akhirnya banyak orang malah terjebak membeli produk asuransi yang kurang maksimal memberikan manfaat.

Misalnya, membeli asuransi tapi mengharapkan ada nilai investasi yang bisa diperoleh di periode tertentu. Kebanyakan perencana keuangan tidak menyarankan kamu membeli asuransi hibrida seperti unitlink. Mengapa? Karena konsep asuransi sebenarnya adalah biaya. Bukan tabungan, apalagi investasi.

Baca juga: Pilih Asuransi Rumah yang Mana?

Bila ingin berinvestasi atau menabung, berinvestasilah di produk investasi seperti reksadana, saham, emas atau properti. Atau, menabung di produk perbankan.

Ketika dua konsep antara asuransi dan investasi dicampuraduk dalam satu produk, akan sulit bagi nasabah mendapatkan manfaat yang maksimal. Baik manfaat dari sisi proteksi atau asuransi, maupun investasi. Jadi, pastikan kamu membeli asuransi murni, ya. Bila memang untuk investasi, belilah produk investasi.

Salah mengasuransikan diri
asuransi jiwa terbaik

Jangan sampai salah mengasuransikan diri. Apakah seorang anak yang masih menjadi tanggungan orangtuanya perlu diasuransikan? Belum tentu.

Salah pilih orang untuk diasuransikan ini banyak terjadi. Terutama untuk produk asuransi jiwa. Pencari nafkah yang memiliki tanggunganlah yang wajib memiliki asuransi jiwa. Istri yang bukan pencari nafkah keluarga, apalagi anak, tidaklah perlu dibelikan asuransi jiwa. Begitu juga orangtua yang sudah tidak produktif finansial. Mereka tidak perlu memiliki asuransi jiwa.
Back To Top