Pulang Kerja, Lihat Istri Mandi Dengan Pintu Terbuka, Saat Ikut Masuk Suami Nangis, Ternyata


Semoga tulisan yang kami sampaikan ini dapat menyadarkan para suami yang banyak menuntut pada istri:
Aku tidak berani menyebut diriku sebagai orang baik, tapi di mata banyak orang, aku adalah orang seperti itu. Stabil, berpenghasilan cukup, sayang isteri.
Aku Pikir dalam masyarakat sekarang yang banyak godaan, mampu untuk tidak tergoda dengan itu semua sudah lebih dari cukup untuk disebut sebagai pemuda yang baik.
Isteriku adalah cinta pertamaku.
Kami berpacaran selama 3 tahun sebelum memutuskan untuk menikah.
Kami saling pengertian sangat dalam sehingga hanya dengan saling memandang saja, sudah tahu apa yang difikirkan masing-masing.
Aku sendiri yakin bahwa kehidupan pernikahan kami seperti ini, kerana itu, boleh dikatakan bahwa kami menjalani pernikahan yang bahagia.
Setelah menikah, isteriku telah membuktikan dirinya sebagai wanita yang baik.
Dia hampir menghentikan semua kegemaran dan kebiasaannya, serta segala hobi, demi memenuhi kewajiban dan tanggung jawab sebagai seorang isteri.
Sebelum berangkat kerja di pagi hari, aku hanya tinggal duduk, sementara sarapan, perlengkapan dan baju kerja, sudah disiapkan oleh isteri.
Saat pulang kerja, makan malam sudah siap di meja dan aku hanya tinggal makan saja.
Semua pekerjaan rumah termasuk mencuci, menyapu dan memasak juga sudah beres dikerjakan oleh isteri.
Keadaan ini berlangsung cukup lama sehingga aku mulai merasa biasa dan berfikir bahwa memang seharusnya itu kewajiban seorang istri untuk suaminya.
Aku sama sekali tidak pernah melakukan pekerjaan apa pun di rumah, lambat laun, aku mulai merasa seperti raja, yang harus sudah disiapkan segala keperluannya di rumah.
Setelah kami punya anak pertama, tentu saja kesibukan istriku bertambah, dia tidak hanya mengurus rumah dan aku, tapi juga mengurus keperluan anak.
Aku sering melihatnya sibuk, namun aku tetap tidak sadar.
Saat di rumah aku terkadang bermain dengan anak sebentar, dan hanya itu saja, tidak pernah membantu sedikitpun pekerjaan isteri.
Orang luar memandang keluarga kami sebagai keluarga yang bahagia, suaminya pandai mencari uang, istrinya pandai mengurus rumah.
Mereka tidak tahu bahwa sebetulnya saat itu, pekerjaan istriku sudah terlalu banyak.
Setelah beberapa tahun, akhirnya anak kedua kami lahir.
Seorang gadis kecil yang cantik kini menjadi anggota baru keluarga kami, dan tentu saja, itu artinya adalah tugas tambahan bagi istriku.
Suatu hari saat aku sedang bermain dengan anak kedua kami, anak pertama kami menangis, jadi istri yang saat itu sedang menyetrika, meninggalkan setrikaannya dan bergegas mendekati anak yang pertama.
Ternyata dia lapar dan minta dibuatkan susu, istriku pun segera memasak air untuk membuat susu, sambil menenangkan anak pertama kami.
Tiba-tiba telepon genggamku berbunyi, jadi aku bergegas ke kamar untuk mengangkat telepon.
Hanya sebentar saja, telepon itu berlangsung selama sekitar 5 menit dan aku segera kembali ke anak yang kedua lagi.
Aku pun sangat terkejut, anak keduaku sedang tergantung di tepi katil, ternyata saat aku meninggalkannya rupanya dia berusaha turun sendiri dari ranjang.


Back To Top